Showing posts with label fiksi mini. Show all posts
Showing posts with label fiksi mini. Show all posts

Thursday, 15 August 2013

KEPINGAN ROMAN : Sosok Itu Biruni Omar Yusuf

‘Sukses!’

Itu adalah kata pertama yang kulontarkan pagi ini ketika mendapati kantung mata yang kian tebal nan legam. Rupanya hasil perjudianku beberapa malam harus ditebus dengan turunnya kadar ketampanan. Mungkin beberapa orang akan bertanya tentang perihal aktifitasku yang sudah seperti hewan nocturnal.

Aku mengamati sosok yang sedang memperhatikanku saat ini. Sesaat satu alisnya terangkat dan tampak seperti melontarkan pertanyaan ‘kenapa memerhatikanku?’. Sedetik kemudian kepalaku menjawab dengan bergeleng tanpa keinginan menatap sosok di hadapan. Tanganku memegang erat pinggiran wastafel dengan batin yang mencoba untuk sedikit menguatkan pikiran agar berani membuka mata.

Monday, 29 July 2013

[Berani Cerita #22] Tangga Saksinya

berani cerita


Happy anniversary, Sayang!” tawamu masih tetap sama seperti pertama kali kita jumpa.

Aku tiup lilin-lilin yang menerangi wajah cantikmu. Aku bahagia karena tangga ini masih tetap mengikat kebersamaan kita dalam rupa tangis dan tawa. Sepuluh tahun sudah berlalu dengan kamu sebagai teman hidup. Durasi yang cukup lama untuk menghabiskan malam dengan menatap langit penuh gemerlap bintang.

“Tak perlu bertanya apa harapanku, ya?” tanyaku lebih cepat dari ekspresi wajahmu yang penasaran melihat bibirku komat-kamit. “Ada namamu serta namaku bersanding dalam panjatku malam ini,” lanjutku.

Tuesday, 23 July 2013

[FIKSI MINI] Jangan Renggut Masanya

sumber

“Awas! Awas! Aduh, layangannya jangan dibelokin ke kanan dong, Mat!” gerutu si sulung. 

“Nanti layangan kakak putus kalo kena benang punyamu.”

“Kakak tuh yang melipir ke kiri layangannya!” teriaknya gak mau kalah.

Ini hari keempat mereka libur sekolah. Aku selalu menghabiskan waktu dengan bermain layangan jika sore hari. Tak jarang akhirnya aku disuguhi keakraban lewat teriakan khas anak-anak. Tempat kami bermain sangat luas dan tak ada yang menghalangi laju layang-layang kecuali hujan. Tak jarang jika matahari sedang bersahabat kami selalu menikmati senja bersama dengan sepoy angin.

.     .     .

Monday, 22 July 2013

[FIKSI MINI] Enam Tiga Puluh

“Om, apa kabar? Sehat?” pertanyaan itu menelusuri indera pendengaranku.

“Sehat. Manyu apa kabar? Jadi pulang hari ini sama papa Randi? Om tunggu di rumah ya …”

Kusimpan ponselku di dekat lampu tidur, bersebelahan dengan segelas air penawar dahaga jika terbangun dari mimpi. Tak jauh, satu jam digital menunjukkan angka 6:30. Ada sakit yang menjalar dalam aliran darah, ada sesak yang memenuhi rongga dada. Sembilan tahun.

.    .    .

Saturday, 20 July 2013

[Berani Cerita #21] Kolak Terakhir

credit



“Teteh! Nanti sore jadi ke rumah kan? Iin kangen main monopoli bareng lagi,” rengekan itu masih sama meskipun usianya sudah remaja.

“Iya. Teteh lagi beres-beres, kalo teleponnya ga ditutup, kapan teteh selesai packing, Sayang?” kedua tanganku sibuk merapikan lusinan bekal nanti malam. “Sudah ya? Nanti teteh kabarin kalo udah mau sampai rumah. Assalamu’alaikum.”

Kuhela nafas panjang dengan mata memejam ke arah langit-langit kamar. Ramadhan sudah sampai penghujung, bisa kubayangkan bagaimana meriahnya nanti sore. Wangi rumah, bertebarannya kue-kue kering, dekorasi khas lebaran dan tentunya semangkuk besar kolak pisang untuk berbuka.

Thursday, 18 July 2013

[Berani Cerita #20] Pemilik Cap Bibir?




“Baik, meeting kita sampai di sini saja. Maaf jika kalian harus repot bergegas ke kantor di hari libur. Sampai ketemu lusa dengan ide-ide segar untuk proyek komersial Ramadhan nanti.”

“Mas, udah selesai? Kalau bisa, secepatnya kemari! Alifa rewel gak mau mulai acara sampai kamu datang. Ibu juga udah mulai gelisah.”

Aku terkekeh membaca pesan Mira di ponselku. Satu gelas air cukup untuk mengusir dahaga sisa meeting tadi dilanjut dengan tarian lincah ibu jari di layar ponsel.

Thursday, 11 July 2013

Ramadhan di Rantau


Jika kuperhatikan, sudah satu minggu konten televisi dijejali dengan iklan seputar Ramadhan. Rasanya setahun kali ini lebih cepat berlalu. Ramadhan sudah kian di pelupuk mata, mendekat seiring aroma wewangian khas kesehariannya semakin terasa di panca indera. Bulan yang satu ini memang sangat dinanti kedatangannya oleh setiap muslim di dunia tidak terkecuali aku. Satu bulan penuh berkah tanpa kurang keistimewaan di setiap detiknya. Adalah hal yang wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakan puasa sedari waktu imsak sampai adzan maghrib berkumandang. Dan itu selama satu bulan penuh lamanya.

Saturday, 6 July 2013

KEPINGAN ROMAN : Pahlawan Kembali Ke Haluan



“Kenapa harus begitu?! Persetan dengan persyaratan!”

Aku tersentak dengan nada tinggi yang dikeluarkan lelaki kecil di sampingku, Roman namanya. Baginya berbicara hal-hal penting via telepon merupakan sesuatu yang tidak lumrah dan melanggar etika. Besar dari kesederhanaan serta keteladanan sang ayah membuatnya menjadi pribadi yang santun juga dihormati. Jika sudah keluar kata cacian, itu tidak lebih dari akibat ketidaksesuaian apa yang sedang dia hadapi.

Saturday, 29 June 2013

dialog malam hari #1

Tak ada yang berubah dari ibukota. Setiap waktunya udara selalu tak bersahabat. Gerah yang teramat sangat sehingga membuat baju dilumuri keringat. Nikmatilah, tak usah repot-repot menggerutu dengan situasinya. Terkadang aku memaki efek udara ibukota. Tapi apa daya? Sudah settingannya seperti ini. Tuhan Maha Kuasa, ditekan dengan temperatur sekian derajat tubuhku beradaptasi dengan sempurna.

Aku tak pernah membayangkan jika tak memiliki pori-pori di permukaan kulit. Mungkin saja badanku memuai seperti ribuan kabel yang menjuntai menghiasi langit kota Jakarta. Bersyukur memang sudah sepatutnya dilakukan, hanya saja aku ingin sekali menikmati malam di ibukota tanpa ada kata gerah.

“Kamu mikirin apa?” tanya Dya padaku.

Tuesday, 18 June 2013

dialog sore hari #1


Langit hari ini cerah. Sesekali biru, tak jarang pula terlihat pucat seolah tiada gairah. Cuaca yang hadir juga tak mau kalah. Sesekali sejuk, tak ketinggalan pula panas terik mendera. Tiga tegukan air mineral dari tumblerku ini meluncur deras seperti seorang anak main perosotan di Atlantis. Segar.

Jalanan terkadang lengang tanpa kendaraan. Nikmatnya pandangan seperti ini. Suasana teduh nan lengang memang sudah mulai jarang di kota ini. Kendaraan bermotor beserta embel-embelnya lebih sering nampak. Ragam polusi kini jadi hal lumrah. Teduh sudah jadi barang langka yang dicari tiap orang.

Bruuuuuuuum…

Friday, 8 February 2013

dialog pagi hari #1

Iseng-iseng nengok ibu yang lagi nengok enin. Sepagi mungkin berangkat ke toko biar ketemu si pahlawan janin. Ada hal yang menggelitik pagi itu. Jarang sekali aku merasakan rona bahagia di wajahku sendiri ketika ibu datang berkunjung. Maklum, perang dingin berlangsung sejak beberapa tahun silam baru leleh di tahun ini. 

Kusambut hangat mentari menyeka wajah penuh senyum hendak bertemu ibu dan enin. Tak ada lelah setelah kayuh sepeda keliling komplek. Semakin cepat kukayuh pedal sepeda jauhkan diri dari rumah. Butuh 20 menit lagi untuk bisa segera sampai, namun butuh keberanian lebih untuk bisa bertatap muka penuh tawa seperti ini. 

Tujuanku mulai terlihat, rumah dengan pagar besi setinggi dada orang dewasa berwarna hijau daun kini di depan mata. Pohon cengkih tua yang menemani cerita keluarga besarku terlihat semakin renta. "Ah, rumah ini. Rasanya sudah kulewati 2 dasawarsa penuh cerita" pikirku. Rolling door keemasan itu mengingatkanku pada peluh almarhum kakek dalam membangun usaha keluarga. 

Saturday, 19 May 2012

day one

Tik . . . Tok . . . Tik . . . Tok . . .

Hanya itu saja yang sampai saat ini memenuhi penginderaan dan kepalaku. Suara jarum jam yang menyeret waktu demi melanjutkan rotasi kehidupan. Menylap malam pekat jadi siang benderang yang penuh warna. Tak seperti sekarang, dominasi warna hitam tak beri ruang untuk warna lain. Hanya beberapa titik warna merah menyala yang kontras dengan pekat, membentuk angka.

"Ya Rabb, kenapa bisa seperti ini menjelang hari kejayaan?" lirih batinku.

Kedua bola mata ini hanya terpaku pada langit-langit kamar, tertahan, tak bisa terbang lebih jauh. Hatiku mencari dekapan hangat yang selama ini mungkin sudah tak kutemui. Sebuah dekapan penuh dengan rasa sayang, yang bahkan melebihi milik ibu. Kasih sayang yang tak pernah terlihat berkurang untukku.

"Gini jadinya kalo kamu gak pernah mau mengenal siapa dirimu, Mal," gumam hatiku mencoba mengajak pikiran untuk berdialog.

Friday, 20 April 2012

sepasang sendal jepit #1

Lelaki itu lusuh terduduk dengan pandangan kosong. Tak objek nyata yang dilihatnya. Mata itu hanya tertuju pada laju sepatu orang lalu lalang. Hari itu juga tak ada yang istimewa. Kabar baik ataupun buruk tak saling sahut-sahutan. Semua tetap sama, datar dan tanpa dinamika. Mungkin dunianya hanya dua warna, saat ini. Hitam dan putih. Tapi bukan itu masalahnya. Dia juga ingin semuanya berwarna, penuh rupa. Tapi apa daya, saat ini dia hanya bisa terpekur menikmati sisa waktu dan jalan hidup yang ada.

Jemarinya saling berpagut, erat ibarat sepasang kekasih tak mau dipisahkan perang. Gemetar dan terlihat agak panik. Sepasang telunjuknya mulai memainkan peran dan menari begitu lincah. Seolah ada irama orkestra yang begitu cepat di sekitarnya. Putarannya seperti bianglala dengan kecepatan melewati batas. Semakin cepat hingga kini terhenti dan malah menjalar ke kedua kakinya. Syaraf di kakinya mulai mengangkat kedua sepatu memainkan nada yang acak.

Wednesday, 31 August 2011

surat untuk tuhan


tik . . . tok . . . tik . . . tok . . . tik . . . tok . . .

Pagi ini masih teramat dingin untuk membuka mata menerima dunia. Kamarku memang terang benderang dihiasi sinar neon. Tapi, di luar sana aku yakin masih terlalu gelap untuk melakukan perjalanan. Kuraih jam tangan yang biasa kusimpan di bawah bantalku baru menunjukkan jam empat pagi. Caranya menyeret waktu terkesan kasar di telingaku karena dia memang jam yang sudah uzur.

Mataku baru saja terpejam dua jam lalu dan kini harus terbuka dengan perasaan sesak tak karuan. Nafasku memburu, jantungku derdetak terlalu kencang tak wajar dan perasaanku sedikit cemas, kalut, takut serta sedikit tak percaya. Selama ini aku selalu terbebas dari gangguan mimpi buruk dalam tidurku, karena selalu ada mantra yang kubaca sebelum menjelang memejamkan mata.

Thursday, 18 August 2011

sepucuk surat untuk indonesia

Yang kami cintai
Negeriku, Tanah Airku, INDONESIA
di
koordinat 6°LU - 11°08'LS dan dari 95°'BB - 141°45'BT bola dunia

--------------------------------------------------------------------------

Thursday, 4 August 2011

i across the universe

Melancholy 
Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi di balik awan hitam.
Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini. 
Menanti seperti pelangi setia menunggu hujan reda.

Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember




[efek rumah kaca - desember]


Alunan lirik milik salah satu band indie itu kian sering mengalun menghiasi tiap dinding kamarku beberapa hari terakhir ini. Tiap nadanya kini semakin jelas terngiang dalam ingatanku dengan berbagai kenangan yang terjadi di beberapa hari terakhir. Mataku perlahan terpejam mengikuti irama lagu yang dipantulkan oleh dinding-dinding kamar. Imajinasiku memainkan cuplikan not balok yang melayang pelan di sekitarku. Begitu anggun hingga aku memasuki dunia yang bukan milikku. Sebuah dunia yang tak di belenggu oleh dinding pembatas, begitu luas hingga aku bisa melihat tak ada ujungnya.


Friday, 22 July 2011

kisah lalu #4

Aku memutar badan dan pandanganku secara perlahan searah jarum jam sambil mengamati setiap lekukan ruangan ini. Dindingnya memang masih sangat baru, tapi di baliknya ada satu sosok bisu yang menjadi saksi ceritaku dengan seisi ruangan ini. Ruangan ini makin hangat seketika mentari mulai melawan rimbunnya dedaunan di sisi timur. Kaca-kaca itu pernah jadi sosok penjaga emosiku untuk tidak meninggalkan ruangan sebelum waktunya tiba. Kaca-kaca itu pula yang menjadi kanvas untuk telapak tanganku di setiap paginya.
Pandanganku sampai di sudut ruangan dengan singgasana yang anggun dan agung untuk seseorang yang menjadi panutanku. Singgasana itu lengkap dengan bunga plastik dan beberapa alat tulis seadanya. Sebelah singgasana itu, sebidang papan tulis putih penuh coreng-moreng ucapan Darwin telah memberiku banyak hal. Satu sosok hangat yang setia menaburkan benih bekal masa mendatang tanpa takut coreng-moreng.

Friday, 8 July 2011

kisah lalu #3

Semuanya masih tetap dingin dan tak ada kehangatan terpancar dari apa pun yang aku pandangi. Jarum jam menunjuk angka  enam dan angka dua belas. Sudah cukup pagi menurutku untuk memulai kegiatan. Tapi ruangan ini masih tetap hening tanpa hiruk pikuk seperti biasanya.

Arah jam sebelasku berdiri kulihat lemari usang penuh dengan buku yang entah milik siapa saja. Aku ingat, lemari itulah yang selama ini memberikan berbagai bekal untukku hingga sampai pada hari ini. Tanpa pikir panjang, aku berjalan ke arah lemari usang tersebut berharap apa yang sempat aku titipkan masih tetap di tempatnya. Ada binar cahaya mentari yang masuk melalui celah dedaunan seolah hendak memberi pertolongan dalam pencarian. Samar-samar kulihat satu buku berwarna biru yang sangat aku  kenal. Semakin jelas kulihat bahwa buku itu masih tetap di tempat yang sama seperti terakhir aku melihatnya.

Friday, 17 June 2011

kisah lalu #2

Kutengadahkan wajahku pelan ke arah garuda yang dengan setia tetap menjaga ruangan ini, menemani sepasang singgasana dan sosok hangatku. Dia kaku namun tidak membatu, sayapnya yang dibentang lebar memberi isyarat bahwa dia selalu siap sedia dan begitu tangguh. Perisai yang melindungi jantungnya menandakan bahwa dia berani menahan serangan apa pun untuk melindungi bagian terpenting. Kaki kuatnya mencengkram falsafah yang menjadikannya paling bijak seantero ruangan ini. Setiap harinya dia mengingatkanku untuk selalu menjunjung rasa hormat pada seisi ruangan ini.

Seraya membalikkan badan memunggunginya hatiku bergumam, “bhineka tunggal ika-mu menyadarkanku bahwa aku hanya bagian kecil dari seantero negeri ini, Bung.”

Friday, 3 June 2011

kisah lalu #1


Cahaya mentari mencoba menembus rimbunnya dedaunan yang melindungi ruangan ku berada di sisi timur. Masih sepi, bangku-bangku masih kosong, gerbang masih tak terjaga, ruang guru hanya beriramakan jarum jam yang menarik waktu, halaman upacara lengang orang namun berhiaskan ranting pohon. Kelas ini masih sunyi hanya ada aku dan papan tulis yang saling berpandangan seolah berdialog tentang pagi ini. Pagi yang dingin dan nyaris menusuk sampai ke sumsum paling dalam jika sang mentari tak berusaha melawan. Ini memang masih pagi, bahkan terlalu pagi untuk memulai pelajaran sekolah seperti biasa. Entah apa yang kupikirkan hingga aku niat untuk menyeruak dari keheningan hari ini. Tak ada hal yang begitu penting hingga mengharuskan aku untuk segera duduk di bangku seperti biasanya.

Tertunduk sejenak menatap meja yang sering menjadikan dirinya sandaran untukku menulis selama beberapa bulan. Aku yang tak pernah beranjak dari sepasang singgasanaku ini seolah sudah memiliki suatu ikatan kuat terhadapnya.