![]() |
credit |
“Teteh! Nanti sore jadi ke rumah kan? Iin kangen main
monopoli bareng lagi,” rengekan itu masih sama meskipun usianya sudah remaja.
“Iya. Teteh lagi beres-beres, kalo teleponnya ga ditutup,
kapan teteh selesai packing, Sayang?”
kedua tanganku sibuk merapikan lusinan bekal nanti malam. “Sudah ya? Nanti
teteh kabarin kalo udah mau sampai rumah. Assalamu’alaikum.”
Kuhela nafas panjang dengan mata memejam ke arah langit-langit
kamar. Ramadhan sudah sampai penghujung, bisa kubayangkan bagaimana meriahnya
nanti sore. Wangi rumah, bertebarannya kue-kue kering, dekorasi khas lebaran
dan tentunya semangkuk besar kolak pisang untuk berbuka.
Ini kan hari terakhir,
semoga kolak pisang bapak habis lebih cepat. Do’aku dalam hati.
Layar ponselku mengerjap bak lampu disko. Ada pesan masuk
dengan nama Heni - Marketing. Tanganku meraih ponsel diikuti gerakan fasih di
layar. “Ibu diharapkan hadir untuk tinjau lokasi.”
Ada kerut di keningku. Kenapa
mesti hari ini? Batinku menggerutu. Secepat kilat kubalas pesannya, “maaf
saya sudah ada janji, kamu saja yang mewakili saya.”
“Suamiku, nanti
sore jangan lupa ya!”
Message sent
“Saya gak mau tahu! Kalian harus ambil uang itu sekarang!!
Tak ada uang?! Kalian tahu harus bagaimana kan?” Nada tingginya tak terbendung
sampai urat di lehernya bisa terlihat.
“Mas, jangan marah-marah dong. Gak mau puasanya batal kan?”
“Iya. Maaf ya, Sayang.”
Wajahku tak henti berseri, pikiranku memainkan dawai bernada
bahagia. I’m home! Lirih batinku.
“Saya turun di sini, Pak. Kembaliannya simpan saja.” Kuseret
paksa koper besar penuh dengan bawaan untuk si kembar Iin dan Lina. Aku mencoba
berjalan pelan, menikmati sepoy angin dengan balutan senja keemasan.
Aku bahagia!
Tapi tidak sampai hitungan menit, kebahagiaan itu hancur
luluh lantak tepat di depan mata kepalaku sendiri. Sayup kudengar teriakan dari
arah kerumunan di depanku, rumahku. Aku bergegas mengambil langkah seribu
membelah keramaian.
“Ibu?! Bapak?! Iin?! Lina?!”
“Bapak sudah saya peringatkan tempo hari! Kenapa uangnya
belum ada juga?!” Lelaki berbadan kekar dengan kepala plontos meneriaki bapak. Dua
lainnya memporakporandakan seisi rumah melempar beberapa barang keluar.
Seiring kekacauan, tangisan si kembar semakin menjadi dalam
dekapan ibu. Bapak, seperti lelaki lainnya, berusaha menjaga harga diri kami.
Ada beberapa pukulan mendarat di wajahnya, tapi nyalinya tak sedikit pun
menciut.
“Hentikan!! Saya mohon hentikan!!” lolongan ibu berusaha
memisahkan bapak dari lelaki biadab itu.
“Ada apa ini?! Bubar!! Bubar!! Ini bukan tontonan!! Bubar!!”
Ada suara yang sangat kukenal memecah kegaduhan dan
membubarkan keramaian. Aku segera berlari ke arahnya tanpa pikir panjang.
“Kamu tak apa-apa, Istriku?” ucapnya seiring dekapannya
menenangkanku.
Tapi, ketenangan itu lagi-lagi tak bertahan sampai semenit.
“Kalian kan sudah saya beri tahu supaya jangan kasar, cukup
tarik paksa surat tanahnya saja.”
Kalimat itu menghancurkan kepercayaanku padanya selama empat
tahun. Tatapannya berubah, ada nafsu membunuh di sana. “Brengsek kamu!
Bajingan! Apa salah bapak sama kamu, hah?!” tubuhku meronta berusaha
melepaskan.
“Kesalahannya satu, Bu. Tidak membayar hutangnya tepat
waktu. Ibu pikir, darimana modal hingga usaha kolaknya terkenal? Iya kan,
Sayang?” ada tawa di sana, tawa yang menginjak tangis keluargaku. “Saya lupa,
bukannya ibu berhalangan hadir?” pertanyaan yang diikuti guyuran kolak racikan
bapak di kepalaku.
496 kata
Hei! Gue rasa ini keren! Yang gue tangkap: ternyata si Istri adalah bagian dari marketing juga ea.. Debt collector, penagih utang, atau apa namanya?
ReplyDelete*applaus! :-)
aih, terimakasih apresiasinya.
Deleteyes! istrinya bagian dari usaha yang akhirnya menjerat sang bapak. :D
sebentar, kalau mereka dari sebuah bank atau leasing bukankah pinjaman biasanya pakai jaminan surat tanah, bisa sertifikat dll? dan jaminan juga pasti di simpan di tempat yng memberi pinjaman
ReplyDeletekecuali di tulisan ini jaminan pinjamannya hanya bbkb misalnya. jadi mau merebut surat tanah. kalau sebuah bank biasanya ada tahapan proses2nya sampai akhirnya jaminan disita/lelang nggak main paksa gitu.
lain kalau pinjamnya dari rentenir dan rentenir biasanya nggak punya marketing.
itu hanya ganjalan saya tentang faktanya aja, idenya sebenernya bagus kok dan ceritanya juga :)
eheee. terima kasih sudah mampir. :)
Deleteada banyak hal di otak saya dan untuk menyederhanakan ide gila ini jadi under 500 words itu lumayan, karena saya selalu ngalir menulis tau-tau udah 700 kata. -__-
ini emang arena supaya saya bisa menyederhanakan yg simpel dan bisa mengembangkan lebih kompleks. :D
koq menantunya tega amat...
ReplyDeletehati bisa terbalik semudah membalikkan telapak tangan mbak.
Deleteterkadang yg di mata baik, belum tentu begitu adanya pun sebaliknya.
anyway, terima kasih sudah mampir
Bagian ini: "Bapak, seperti lelaki lainnya, berusaha menjaga harga diri kami. Ada beberapa pukulan mendarat di wajahnya, tapi nyalinya tak sedikit pun menciut." Mengharukan.
ReplyDeletekarena bapak adalah sosok tameng pelindung kehormatan keluarganya. ;)
DeleteBagus :) sukses..
ReplyDeleteBeberapa emosi dalam satu cerita. Harus baca tiga kali dan sedikit penjelasan dr si penulis. Tapi over all keren ini tulisan. Endingnya unpredictable .. :)
#bacaLagi
Delete#baruMewek
ini memang kerangka sederhana untuk versi kumplitnya mbak :)
Wah..ditunggu versi komplitnya yaaaaa..
ReplyDeleteWah keren nih... makin rajin aja buat FF... Makin bagus lo.
ReplyDeleteaih, ada bunda reni mampir
Deleteihi, ini ajang latihan buat tulisan lebih panjangnya bun
terima kasih sudah mampir dan support
nah...kalo yang ini pake mikir bolak balik kang :)
ReplyDeleteemosi-nya dapet
cas cis cus bahasanya dapet banget
*komen gue bingungin yakz
hihi
Deletesaya juga emosi pas nulisnya ini. :(