![]() |
sumber |
“Awas! Awas! Aduh, layangannya
jangan dibelokin ke kanan dong, Mat!” gerutu si sulung.
“Nanti layangan kakak
putus kalo kena benang punyamu.”
“Kakak tuh yang melipir ke kiri
layangannya!” teriaknya gak mau kalah.
Ini hari keempat mereka libur
sekolah. Aku selalu menghabiskan waktu dengan bermain layangan jika sore hari.
Tak jarang akhirnya aku disuguhi keakraban lewat teriakan khas anak-anak.
Tempat kami bermain sangat luas dan tak ada yang menghalangi laju layang-layang
kecuali hujan. Tak jarang jika matahari sedang bersahabat kami selalu menikmati
senja bersama dengan sepoy angin.
“Ayaaah! Kakak ganggu Mamat lagi
baca buku nih, Yah!” teriakan itu membuatku kurang konsentrasi dalam bekerja.
“Masa buku punyaku sekarang Mamat
yang baca, Yah? Kapan coba giliranku?” wajahnya mengerut, matanya mendelik,
tangan gemuknya dilipat di dada.
“Permisi sebentar, Pak.” Aku pamit
pada klienku hendak melerai mereka.
“Sudah, ini ayah bagi dua ya
bukunya. Bacanya yang tertib dan gak berisik, kasihan kan klien ayah?”
Ini hari kesebelas mereka libur
sekolah. Siang hari mereka sering menemaniku bekerja dan meninggalkan istriku
dengan pekerjaannya. Makan siang kami cukup menarik, terkadang kami menyantap roti
isi daging.
Satu malam kami sedang menyaksikan
tontonan di televisi. Ada kartun Mr Bean ditayangkan, acara favorit di keluarga
kami. Seringkali teh hangat dan beberapa biskuit menemani hiburan yang kami
nikmati.
“Ayah, kenapa aku libur sekolah? Sedangkan
anak-anak yang lain masih tetap sekolah. Kapan kita pulang ke rumah? Aku kangen
mainan dan kamarku.” Pertanyaan si kecil membuat istriku tak kuasa menahan tangis.
Aku hanya menatap wajahnya.
“Ayah, kenapa kita tak boleh bantu
kerjaan menyemir sepatu seperti ayah? Kan gampang,
Yah! Lagipula, kantor ayah
kemana? Kerjaan ayah yang dulu gimana? Bukannya lebih enak kerjaan yang dulu?”
Kini giliran kakaknya yang
bertanya. Sudah kuduga, istriku hanya menundukkan kepala dengan isak tangis
yang bisa kukenali. Aku peluk mereka bersamaan, hangat. Aku tatap wajahnya satu
persatu.
“Kantor ayah lagi dipinjam sama
temen , kerjaannya juga sekarang dipegang sama dia. Karena tak kerja lagi di
sana, ayah tidak dapat gaji jadinya kalian libur dulu sekolah. Tapi, bukan berarti
karena libur sekolah dan ayah tak punya gaji kalian harus bantu kerjaan ayah.
Kalian cukup belajar aja seperti biasa,” keduanya hanya mengangguk dengan penuh
semangat. “Ayah janji bakal cepat bawa kalian pulang ke rumah, tidak tidur di
trotoar lagi dan tidak main layangan di atap gedung yang hampir roboh.”
Aku tatap istriku, “biarkan mereka
menjadi anak-anak meskipun dalam kondisi seperti ini. Jangan sampai kita
libatkan mereka dalam kesulitan.”
NB : Tulisan ini dibuat atas keprihatinan pada keadaan lingkungan anak-anak saat ini. Selamat hari anak nasional! Jangan renggut masanya!
::: Tempat kami bermain sangat luas dan tak ada yang menghalangi laju layang-layang kecuali hujan :::
ReplyDeleteHahaha... kalimat ambigunya telah dimulai di sini... hm.... siapa sangka kalau itu benar benar luas tanpa batas lain selain hujan?!
::: wajahnya mengerut, matanya mendelik, tangan gemuknya dilipat di dada :::
hihihi.. khas anak anak banget kalau lagi sok ngambek ^_^
::: Seringkali teh hangat dan beberapa biskuit menemani hiburan yang kami nikmati :::
aku sempat bingung bagaimana trotoar bisa menydiakan teh hangat... tapi, aku coba berpikir out of the box deh membacanya..
::: Karena tak kerja lagi di sana, ayah tidak dapat gaji jadinya kalian libur dulu sekolah :::
hihihihi.... ada kekurangan konsistensi tentang sebutan gaji di depan anak anak dengan kalimat "tidak melibatkan anak-anak". Hm... perasaanku saja?
::: Ayah janji bakal cepat bawa kalian pulang ke rumah, tidak tidur di trotoar lagi dan tidak main layangan di atap gedung yang hampir roboh :::
gemuruh di hatiku jadi cetar membahana. Ternyata inilah esensi dari semua keambiguan tadi sebelumnya. ^___^ walau agak sempat tersesat tentang dari mana teh hangat, dari mana mister bean, dan dari mana roti isi daging... ^__^
----
Selamat hari Anak Nasional juga...
semoga setiap orang yang membesarkan anaknya atau ingin dibesarkan orang tuanya dapat terus berkarya positif demi masa depan generasi bangsa kita . ^_^
nah kan bener, gaji itu ganjalan daritadi. -___-
Deletehaduh halah setelah sekian bangun ulang cerita akhirnya tetep sama
Wah, sudah dikupas tuntas ya? Hehehe...
DeleteBut salut dengan semangatnya belajar menulis fiksi mini.
Aku yang kurang semangat, jadi gak pernah berlatih lagi sekarang :(
iya bun,
Deleteyang di atas emang rajin kupas tuntasnya. :D
ayo bun ikutan lagi aja bun. :D
saya juga modal nekat ama seneng aja
Selalu bisa disirat sebuah pesan moral dari cerita yg bagus! Gue bisa nangkep ide cerita ini, abaikan beberapa hal yg mengganjal. Only show, don't tell! Pemadatan! Pemadatan! :-)
ReplyDeleteaha!
Deletesiap mas eksak!
show, don't tell
bhahaha
DeleteKeren! Keren! Suka! Suka! Nggak nyangka ternyata mereka main layangan di gedung hampir roboh :(
ReplyDeletesemakin sempit ruang deskripsi, sebenarnya bakal semakin gila imajinasi pembaca :D
Deletewuooow...
ReplyDeletembak nuyuy kenapakah? :O
Deletengga sampe bergelantungan di pohon kan?
Bagus.
ReplyDeleteWhere is your way of "thinking"??.. Semacam sedikit menghilang di ruang ini. Tapi tak apa, bagus.
Ada sesak saat baca pertanyaan anak perihal libur mereka, dan ternyata mereka sedang benar-benar libur.
Dan ada damai saat ayah memberi penjelasan ke ibu, ayah selalu menenangkan.
Nice!! :) good work. Do!!!
lagi ngga pengen edisi berat pas topik ini :D
Deletecuma pengen menikmati tapi teuteup aja lieur
Mwahhahahhaha..
DeleteLieur :))
Keep writing!! Well done
Hemm.... keren!
ReplyDeleteselamat hari anak yaa, pengen nulis kaya gini tp gak sempet :(
keep writing aja mas wandiawan! :)
Deleteterima kasih sudah mampir
widih.....jigana bakal sering dateng ka http://ceracau-ku.blogspot.com hihi..
ReplyDeletekeren..!!
hahai. nuhun pisan ah bem. :D
Deletesoklah semangat gemar membaca :D