“Sehat. Manyu apa kabar? Jadi pulang hari ini sama papa
Randi? Om tunggu di rumah ya …”
Kusimpan ponselku di dekat lampu tidur, bersebelahan dengan
segelas air penawar dahaga jika terbangun dari mimpi. Tak jauh, satu jam
digital menunjukkan angka 6:30. Ada sakit yang menjalar dalam aliran darah, ada
sesak yang memenuhi rongga dada. Sembilan
tahun.


